Press "Enter" to skip to content

Perempuan Pandai Besi dari Sinjai

Jangan anggap enteng kekuatan perempuan, ia bisa menjelma bak Herkules dalam film-film, tapi juga jadi selembut sutra. Bukan hanya soal melahirkan, tangan mungilnya juga mampu menempa baja, membuatnya jadi benda, dan tak kalah dari parang buatan kaum Adam.

Pengrajin besi atau pandai besi selalu identik dengan kaum adam. Tapi di Dusun Puncak, Desa Gunung Perak, Kecamatan Sinjai Barat, Sulawesi Selatan hal ini tidak berlaku. Mayoritas penduduk yang dijuluki kampung pandai besi tersebut adalah kaum hawa.

Kisah yang langka ini membuat penulis tertarik untuk menjelajahinya. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih empat jam dari Makassar, akhirnya tiba juga di desa tersebut. Rasa penat bisa terbayar tunai setelah menyaksikan pemandangan alam di kampung yang terletak tepat di kaki Gunung Bawakaraeng ini.

Alam terbuka yang masih alami, hingga warga yang lalu lalang layaknya kehidupan di desa tetap terjaga rapih di tempat ini. Sawah-sawah terpampang begitu juga orang-orang yang beraktifitas di tempat itu. Awalnya penulis cukup menikmati suasana ini, sebelum akhirnya terdengar dentuman palu beradu dengan besi, beberapa meter dari rumah warga.

Dentuman itu juga hal biasa disini, dan itulah keunikan Desa Gunung Perak. Suara bising itu adalah sumber kehidupan sebagian warga desa. Setelah berjalan beberapa meter, saya tiba di sebuah rumah yang dari jauh sudah terdengar kebisingannya. Hal pertama yang terlihat adalah seorang perempuan yang menggenggam palu berukuran besar. Bahkan lebih besar dari ukuran tangannya.

Dengan posisi jongkok dan siap mendentumkan palu ke arah bawah, perempuan ini terlihat memukul besi panas sekuat tenaganya. Besi ini akan diubah menjadi parang atau sebilah pisau.

Bekerja jadi pandai besi bagi perempuan di desa ini sudah hal biasa. Begitu juga dengan Kasmawati yang saat penulis temui sudah berusia 33 tahun. Bahkan profesi perempuan pandai besi sudah jadi pekerjaan wajib sekaligus resiko menjadi istri dari pekerja pandai besi.

Jika di kampung-kampung lainnya, perempuan hanya menjadi ibu rumah tangga atau minimal membantu suami di sawah, hal itu tidak berlaku di sini. Setelah menikah dengan laki-laki yang bekerja sebagai pandai besi, membuat sebagian besar perempuan juga menjadi pekerja pandai besi.

Selain Kasmawati, perempuan pandai besi juga banyak ditemui di kampung Sinjai Barat tersebut. Kampung yang bisa ditempuh sekitar Tiga sampai Empat jam menggunakan sepeda motor, melalui rute Malino ini memang unik dan sangat jarang terjadi, bahkan di Indonesia sekalipun.

Dalam bahasa setempat mereka dikenal dengan sebutan Panre Bassi. Seolah menjadi konsekuensi bagi para perempuan ditempat itu, ketika memilih menjadi istri dari laki-laki pandai besi untuk juga jadi panre bassi.

“Sejak saya menikah, saya mulai menjalani profesi sebagai panre bassi, membantu meringankan pekerjaan suami,” ujar Kasma yang bercerita sambil mendentumkan palu ke besi panas yang baru saja ditarik oleh suaminya dari alat pembakaran.

Dengan berbalut kaos oblong dan menggulung sarung di kepala, yang difungsikan sebagai penahan rambut supaya tidak terurai, Kasma sengat cekatan memainkan palu di kepalan tangannya.

Tampak sesekali Ia menyeka keringatnya menggunakan kaos tangan butut yang kerap dipakainya saat menggeluti pekerjaan ini. Kasma harus menggunakan dua tangannya untuk memukul besi, karena palu yang dia gunakan ukurannya lebih besar, “Palu ini juga lebih berat dari palu pemukul suami saya,” tambahnya.

Pemandangan ini, membuat saya berdecak kagum, melihat Kasmawati yang melayangkan palu dari ketinggian di atas kepalanya, sampai ke bawah, tempat besi seberat 5 kg ditempa menjadi senjata tajam.

Kasma dalam kesehariannya bekerjasama memukul besi dengan suaminya Bado (43), yang bertugas mengontrol panasnya besi dan membuat desain atau model dari parang yang akan dibuat.

Untuk membuat 1 parang, dibutuhkan 3 tenaga kerja. Selain Kasma dan Bado yang bertugas menempa besi, ada satu orang lagi yang bertugas memompa api, yang disebut sebagai ‘tukang banting pipa’. Imam Sangkala, lelaki paruh baya ini dengan lincah menarik 2 kayu di pipa pembakaran agar api yang dihasilkan terkontrol untuk membakar api.

Ibu Tiga anak ini senantiasa setia menemani sang suami meski harus bekerja sebagai pandai besi. Anak sulungnya lelaki berusia 16 tahun bekerja sebagai petani, Dua adiknya yang perempuan masih duduk dibangku Sekolah Dasar kelas 5 dan kelas 2. Tampak sesekali dua anaknya ini datang dan duduk dipangkuan ibunya.

Menjadi seorang Panre Bassi bagi Kasma, sudah biasa. Ia mulai menggeluti pekerjaan ini sejak umurnya 15 tahun, tepat ketika ia baru menikah. Rata-rata perempuan di sini juga seperti itu. Sudah menikah, ia akan membantu suaminya menjadi panre bassi. Ibu dari 5 anak dan 1 cucu ini, bahkan cukup lincah. Ia hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam sampai 1 setengah jam untuk menyelesaikan 1 parang dengan panjang sekitar 30 cm.

“Jika parangnya pendek atau parang bengkok, dengan panjang kira-kira 15cm, maka bisa lebih cepat selesai,” Katanya.

Sementara dalam 1 hari penuh, ia bersama suami dan Imam Sangkala, bisa menyelesaikan 5 sampai 7 buah parang besi. “Jika ada pesanan, 10 biji bisa jadi, jika dikerja dari pagi.”

Di dusun puncak ini, Kasma bercerita bahwa keuntungan dari profesinya tidak bisa dia hitung dengan pasti, yang jelas cukup untuk makan dan minum serta menggulirkan usaha pembuatan besinya hingga saat ini.

Untuk menjalankan usahanya, Kasma dan sekeluarga tidak hanya membutuhkan bahan dasar yaitu besi bekas, atau besi kiloan yang biasa ia beli dari distributor yang datang langsung di kawasan kaki Gunung Bawakaraeng. Tapi ia juga yang bertindak sebagai penjualnya.

Besi bekas yang ia beli dengan berat 1 pikul dihargai Rp50 ribu. 1 pikul besi dapat habis dalam jangka waktu satu setengah bulan, dengan produksi parang dan pisau bisa mencapai 100 buah.

Bahan-bahan lainnya adalah arang, sebagai alat pembakaran dengan harga Rp35 ribu sampai Rp40 ribu per karung. Sentuhan terakhir pembuatan parang ataupun pisau adalah penghalusan atau penajaman alat dengan batu gurinda. Setelah diperhalus, kembali dibakar dan dicelupkan kedalam air.

Setelah itu selesai, parang siap dijual di pasar, bahkan lebih sering pembeli sendiri yang datang ke tempat ini, sehingga dapat harga di bawah harga pasar.

Selain menjadi pandai besi, Kasma juga tetap menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Setelah membantu suami, ia akan memasak dan menyiapkan makanan untuk suami dan anak-anaknya. Pekerjaan ganda ini bahkan ia biasa lakukan saat sedang bekerja menempa besi sembari memasak di dapur. Itu sudah jadi kebiasaan rutin Kasma.

Aisyah (43) juga berprofesi sama dengan Kasma. “Sudah berapa tahun ini saya berhenti, karena sudah tidak kuat lagi.” kata perempuan paruh baya ini. Aisyah bercerita bahwa saat ini ia hanya menjadi ibu rumah tangga yang menjaga cucu dan sesekali ke kebun.

“Hanya itu, untuk memukul besi lagi saya sudah tidak kuat,” ujarnya mengenang masa remajanya ketika ia tamat SMP dan menikah dengan laki-laki dusun puncak. “Saya asli dari Dusun Batu Leppa, saat tamat SMP dan menikah di sini, ketika itu juga saya mulai menjadi perempuan pandai besi, sampai beberapa tahun yang lalu,” ujarnya.

Suami dari Kasma, Bado, bercerita lain. Ia tak ingat persis kapan tepatnya menjadi panre bassi, yang jelas ini adalah perkerjaan warisan dari bapaknya. “Seingat saya sudah puluhan tahun, karena bapak sendiri menjadi pembuat parang ketika saya belum lahir,” ungkap laki-laki yang dengan lincah memukul besi ini, sambil terus bercerita.

Sesekali ia membuat gulungan putih dari tembakau yang ia simpan khusus di sampingnya agar mudah dijangkau selama bekerja. Saat besi dibakar selama beberapa menit, ia pun membakar gulungan putihnya sambil mengisapnya, ditemani secangkir kopi hitam.

Untuk membuat satu parang, ia kadang menghabiskan rokok buatannya sendiri sebanyak 5 batang, dan 1 gelas kopi. “Ini sebagai peringan kerja, kerja itu harus dinikmati,” ujarnya tertawa.

Bado juga bercerita tentang bapaknya yang saat ini berumur 90 tahun dan telah pensiun menjadi seorang pembuat besi saat umurnya menginjak 81 tahun. Bapak dari Bado, yang juga penulis temui mengaku, telah menjadi pengrajin besi di dusun Puncak sejak umur 19 tahun, dimulai tahun 1945 saat Indonesia resmi merdeka.

“Dulu yang menjadi panre bassi di sini hanya hitungan jari, sekarang desa ini bahkan diberi nama jalan, yaitu jalan Pandai Besi, sebagai tanda bahwa kampung ini adalah kampung pandai besi,” ujar Cannere ayah Bado, yang bercerita bahwa dari 8 anaknya, hanya Bado yang mewarisinya sebagai Panre Bassi. “Selebihnya merantau ke kota dan ada juga yang menjadi pekerja kebun.”

Cannere juga bercerita keberadaan para panre bassi tergabung dalam Koperasi Industri Pandai Besi Madakko di kawasan tersebut, yang merupakan profesi keturunan dari para leluhur, yang sebenarnya juga lahir atas desakan ekonomi. “Mungkin, kami tidak akan menjadi pandai besi jika kami sekolah dan memiliki ketrampilan lain.”

Di dusun ini, Kasma dan Aisyah bersama puluhan ibu rumah tangga lain di Dusun Puncak setiap harinya bergumul dengan palu, besi dan bara api. Melakoni profesi sebagai panre bassi bukan berarti para ibu rumah tangga itu melupakan urusan dapur. Tungku yang menjadi kawah untuk melunakkan besi itu juga dimanfaatkan sebagai tempat memasak sayur, memasak air, dan menanak nasi.

Saat waktu menunjukkan pukul 13.00 Wita, Kasma menaruh palu serta membuka kaos tangannya, bersiap menyajikan hidangan makan siang. Sembari menyiapkan hidangan makan siang, Kasma bercerita tentang keluarga dan pekerjaannya. Dia mengaku harus membantu suami bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Hidangan makan siang yang disajikan hampir semuanya berasal dari sawah dan kebun miliknya, beras dan sayuran.

Dusun ini terletak di ketinggian sekitar 1.300 meter diatas permukaan air laut sehingga membuat suhunya terasa begitu sejuk dan jauh dari kebisingan kota. Hanya sesekali terlihat pendaki gunung yang melintas saat akan mendaki ataupun yang telah turun dari gunung Bawakaraeng.

Kink Kusuma Rein : Bicara.ID