Press "Enter" to skip to content

Melihat Langsung Tradisi Ma’nene di Toraja

Mengunjungi satu daerah, selain keindahan alam yang wajib dikunjungi, mencari tahu dan melihat tradisi uniknya juga perkara yang tak boleh ketinggalan. Pada penghujung 2017 lalu saya berkesempatan menjejal tradisi yang tak lazim itu di Toraja, Sulawesi Selatan.

Menjelajahi Toraja, bukan yang pertama bagi saya. Namun baru pada kunjungan ini saya mendapat pengalaman yang tak terlupakan. Saya menyaksikan tradisi membangkitkan jenazah, orang Toraja menyebutnya ma’nene. Tradisi ini sudah nyaris punah dan saya merasa beruntung masih mendapat sisa-sisanya.

Hari itu, saya baru saja turun dari bus yang mengantar dari Makassar, Ibu Kota Sulawesi Selatan. Setelah berkendara menembus malam -berangkat pukul 9 malam, tiba pukul 7 pagi-, tidak ada waktu berleha-leha hingga seorang kawan menjemput.

Sebelum berkendara menggunakan sepeda motor, terlebih dahulu kami membeli masker dan beberapa botol air mineral. Kemudian mengisi bahan bakar secukupnya lalu mulai menyusuri pemukiman warga. Lewati perkampungan dekat kota, kami terus melaju melewati persawahan hingga akhirnya jalan mulai menanjak.

Tidak tanggung-tanggung, tanjakan yang kami lalui tak pernah surut hingga akhirnya kendaraan tiba di satu kampung bernama Pangala. Terletak di Kecamatan Rindingallo, Toraja Utara. Sekitar 30 kilometer dari Rantepao, Ibu Kota Toraja Utara.

Baca Juga: Jalan Panjang Menuju Puya

Mencapai lokasi ini bukan sesuatu yang mudah. Tak hanya menanjak, tapi juga berliku dengan tebing jurang yang curam. Kadang-kadang kami harus saling mengalah jika berpapasan dengan mobil karena jalanan yang menyempit.

Namun menikmati Toraja di ketinggian membawa suasana tersendiri. Hijaunya hamparan sawah dan gembala-gembala yang nampak kecil di ketinggian memberi kesan damai nan menenangkan.

Setelah kurang lebih dua jam berkendara dari Rantepao, kami tiba di Pekuburan Balle’, Pangala sekitar Pukul 9.00 pagi. Dari seberang pematang sawah, nampak orang-orang berkumpul pada pondok-pondok yang bertaburan di perbukitan. Tempat itu kompleks pekuburan. Orang Toraja menyebutnya kuburan patane.

Dalam kepercayaan orang Toraja, ada beragam jenis pemakaman yang dikenal. Selain kuburan batu dan gua, patane jadi yang dominan. Konon pula katanya, kuburan patane merupakan pilihan kelompok masyarakat kelas rendah. Tapi saya tak melihatnya dari sisi itu. Karena tetap saja ada keunikan dari setiap kuburan di Toraja.

Kami tiba di lokasi pemakaman bertepatan dengan selesainya warga memanjatkan doa. Mereka kemudian membongkar satu persatu makam. Salah seorang yang membawa toa memberi komando agar prosesi berjalan tertib.

Saat jenazah dikeluarkan satu persatu itulah pemandangan tak biasa tersaji. Awalnya, peti-peti utuh diangkat. Diletakkan pada area yang kosong dengan terpaan sinar matahari cukup. Peti-peti itu kemudian dikerumuni keluarga masing-masing. Jenazah dengan beragam bentuk kemudian dikeluarkan. Ada yang tetap dibaringkan. Tak sedikit yang ditaruh sambil berdiri.

Beberapa jenazah disandarkan ke tembok guna mendapat sinar matahari yang cukup. Tradisi menjemur jenazah ini lazim disebut Ma’nene (Foto: Ancha Hardiansya)

Pemandangan itu membawa suasana lain. Seakan-akan kita berdiri bersama mayat-mayat hidup, layaknya zombi pada serial The Walking Dead. Hanya saja, mayat-mayat itu tidak benar-benar hidup. Ia hanya mematung dengan sejuta makna pada guratan di wajahnya.

Perlakuan orang Toraja kepada jenazah yang membuat prosesi ma’nene kian unik. Jenazah-jenazah itu tetap diajak bicara. Menanyakan kabar dan meminta maaf jika ketika diangkat sedikit terbentur atau posisinya kurang nyaman. Beberapa jenazah pun pakaiannya diganti dengan kain baru.

Selain jenazah yang berbentuk utuh, ada pula yang sisa tulang belulang. Proses ma’nene juga mengurusi jasad yang begitu. Biasanya tulang belulang itu akan langsung dikumpulkan dan dibungkus dengan kain baru. Tidak seperti jenazah lainnya yang harus dijemur sesaat, tulang belulang itu langsung dipindahkan ke tempat baru.

Prosesi ma’nene di Pangala hari itu pada dasarnya memindahkan semua jenazah dari patane lama ke patane baru. Ada 102 jasad yang diurus kepindahannya.

Bagi keluarga yang masih hidup, prosesi ini sekaligus jadi ajang silaturahmi kembali. Sekedar mengobati rasa rindu kepada mereka yang telah mati bertahun-tahun lalu. Meski terasa ada aroma menyedihkan dalam prosesi ini, tapi satupun tangisan tak terdengar. Dan adat mereka melarangnya.

Seorang pesiarah meratapi jenazah keluarganya dalam prosesi Ma’nene. Adat melarang mereka untuk menangis. (Foto: Ancha Hardiansya)

Saya bertemu Yohannes Tarukbua’, seorang tokoh adat di tempat itu yang menceritakan awal mula tradisi itu ada. Konon katanya, pada suatu masa yang lampau, tradisi ini lebih sakral lagi. Jasad-jasad itu benar-benar dihidupkan. Bahkan diperjalankan menuju pemakaman barunya. Namun tradisi tersebut tak pernah lagi ada. Yohannes pun mengaku tak pernah melihatnya.

Generasi sekarang tetap merawat tradisi itu meski dengan cara yang berbeda. Bahkan upacara ma’nene jadi ajang kumpul kembali bersama keluarga yang masih hidup. Di Pangala pagi itu, beberapa orang datang khusus sambil membawa bekal, kopi dan kue-kue lalu duduk menonton semua prosesi. Mereka tak peduli dengan debu-debu yang beterbangan.

Tak adanya rasa takut yang terpancar di wajah orang-orang Toraja, membuat semua yang pendatang luar juga merasakan hal yang sama. Saya pun demikian. Sebelum menyaksikan prosesi tersebut, telah banyak bayangan dalam kepala akan horornya prosesi itu. Nyatanya tidak. Horor debu dari fragmen jesadlah yang ada. Tapi mampu ditangkal berkat masker yang dibeli sebelumnya.

Peristiwa dua tahun sekali ini sekarang jadi objek wisata. Bahkan pengunjung yang mendominasi malah wisatawan mancanegara. Pemandangan orang-orang bercengkrama dengan mayat, bahkan berswafoto jadi tontonan yang unik. Namun ada keharuan dan kebanggaan di dalamnya. Mereka bahkan melakukannya dengan riang gembira.

Acara ma’nene biasanya ditutup dengan ibadah ikumene. Keluarga yang jasadnya dikeluarkan kala itu akan urungan memotong kerbau dan babi. Lalu mereka makan bersama sebagai tanda syukur. Makanan khas seperti pa’piong (daging babi yang dibakar dalam bambu) tidak akan ketinggalan.

Setelah lelah berkeliaran dalam kerumunan mayat-mayat, kami akhirnya meninggalkan lokasi. Makan siang di sebuah tongkonan (rumah adat Toraja) tak jauh dari pekuburan. Pengalaman hari itu jadi lain, karena berwisata kematian yang masih jadi momok menakutkan bagi sebagian orang. Tapi percayalah, tak sedikit pun rasa horor menyergap ketika berdiri bersama mereka.

Foto Headline by Endy Allorante : IG @endyallorante