Press "Enter" to skip to content

Mantra Terakhir Para Bissu

Peranan Bissu dalam upacara adat Suku Bugis cukup penting, tapi tidak semua orang bisa menerimanya, hingga kini keberadaannya kian terdesak.

Puang Matoa Saidi (53) meninggal dunia di Rumah Sakit DR Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Selasa 28 Juni 2011. Sejak itu, tak ada lagi orang yang mampu menggantikan posisinya sebagai pimpinan tertinggi para bissu.

Seakan kehilangan arah, komunitas bissu di Sulawesi Selatan malah terpecah belah. Ada pimpinan yang diangkat oleh pemerintah dan ada yang menolak lalu mengangkat diri sendiri. Sosok Puang Matoa Saidi sepertinya tak mudah digantikan. Hingga banyak yang dianggap tak sesuai kriteria.

Saya berkendara 77 kilometer dari Makassar ke Segeri Kabupaten Pangkep untuk menemui komunitas bissu. Tujuannya mencari tahu, selepas kematian Puang Saidi, apa yang terjadi dengan komunitas bissu saat ini.

Saat Tiba di Pasar Segeri, saya menunggu seseorang bernama Eka di sebuah salon. Cukup ramai ketika itu. Jelang lebaran tempat cukur kadung ramai oleh pengunjung. Salon kecantikan juga demikian.

Tak berapa lama menikmati rindangnya pohon mangga di depan salon, dua pria paruh baya turun dari mobil. Mereka berjalan memasuki salon tersebut. Keduanya mengenakan peci dan bersarung. Tak lama seseorang dengan rok di atas lutut keluar.

“Ndak apa-apa menungguki dulu Pak Haji,” katanya dengan dialek Bugis Makassar. Suaranya lembut dan terdapat jangkung di lehernya. Kedua lelaki itu pun hanya tersenyum mengiyakan.

Di dalam salon yang menempati sisi timur Pasar Segeri itu beberapa orang sedang dicukur. Tempatnya tidak begitu besar. Hanya ada tiga meja rias dengan tiga kursi tersedia. Semuanya terisi. Empat kursi di ruang tunggu juga ada beberapa orang yang duduk.

Dua orang bersarung yang datang belakangan akhirnya hanya duduk di depan salon. Saat asik mengamati aktivitas di salon tersebut, dari seberang jalan seseorang berbaju merah dengan sedikit tergesa-gesa mendekat lalu menyapa.

Ia adalah Eka. Orang yang saya ajak bertemu. Meski belum sempat besua dengannya, sangat mudah mengenali sosoknya yang lain. Meski waria, gerak-geriknya sama sekali jauh berbeda dengan beberapa pegawai salon tempat Pak Haji itu menunggu.

Perawakannya sederhana, rambutnya tidak panjang namun diikat baik. Suaranya pun tegas, meski tetap menunjukkan sisi feminim.

Saya diajak ke gudang penyimpanan peralatan pernikahan miliknya, tepat di seberang jalan. Eka sejak 8 tahun lalu memilih peruntungan jadi indo’ botting (perias pengantin). Bisnisnya sukses. Salon tempat saya menunggu pun masih bagian dari kerajaan bisnisnya.

“Bissu itu waria, tapi tidak semua waria disebut bissu,” begitu kata pembuka saat bercerita di gudang penuh pernak pernik miliknya.

Dalam tradisi bugis, bissu punya tempatnya sendiri. Tidak semua orang bisa jadi bissu. Gelar adat ini hanya diperuntukkan buat mereka yang calabai atau calalai. Calabai adalah laki-laki yang berpenampilan layaknya perempuan, sebaliknya calalai perempuan bergaya lelaki.

Sharyn Graham sudah pernah meneliti soal mereka. Dalam bukunya “Sulawesi’s fifth gender” (2007) dengan gamblang ia menjelaskan bahwa bissu tidak bisa disamakan dengan banci atau waria. Mereka punya posisinya sendiri dengan peran sakral dalam kultur kerajaan bugis kuno.

Tapi itu dulu. Jauh sebelum Darul Islam (DI) Tentara Islam Indonesia (TII) membuat bissu ketar ketir lalu bersembunyi.

“Kami masih sering mengunjungi gua tempat persembunyian bissu kala itu,” kata Eka. Ia pun menjelaskan bagaimana sampai ke lokasi tersebut. Hanya butuh jalan kaki dari Pasar Segeri kurang lebih dua jam.

Eka pun bercerita kondisi mereka saat ini. Bahwa bissu masih ada itu sudah pasti. Namun sejak Puang Saidi meninggal, makin banyak yang malah mengaku-ngaku sebagai bissu. Padahal tidak mudah menjadi bissu. Butuh ritual dikafani tujuh hari tujuh malam sebelum akhirnya diangkat secara adat.

Sebagai kepala bissu juga tidak ada. Sosok yang jadi patron yang cocok jadi pemimpin sangat langka.

“Beberapa nama yang ditunjuk juga belum layak, hingga pemerintah mengambil tindakan mengangkat sendiri pengganti Saidi,” kata Eka. Hanya saja sosok itu tidak diakui secara adat. Yang bersangkutan pun tak lagi ada di Sulawesi.

Eka juga baru dinobatkan lima tahun terakhir sebagai bissu. Sehingga masih panjang perjalanan untuk menduduki puncak pimpinan. Dulu ia juga banyak ikut ke Puang Saidi. Hingga akhirnya terjadi kesalah pahaman antar mereka.

“Saya pernah menegurnya, karena sering ke luar negeri bukan atas nama adat, yang begini sangat dilarang, tapi ia (Saidi) tetap lakukan,” ujarnya.

Hubungan keduanya baru membaik jelang kematian Puang Saidi. Meski mengaku kecewa, namun tidak menyimpan benci kepadanya.

Sejak mengirat, tugas Puang Saidi menjaga Rumah Arajang, rumah adat yang menyimpan benda pusaka kerajaan bugis kuno juga terbengkalai. Baru setelah sosok bernama Bissu Nani diangkat jadi penerusnya pada Jumat 17 November 2017 silam.

Puang Matoa Nani disahkan oleh Camat Segeri yang kemudian mengangkat dewan adat sekaligus. Namun metode semacam ini dinilai kurang tepat oleh beberapa anggota komunitas. Mereka menilai, pengganti Puang Saidi haruslah diangkat oleh mayoritas komunitas itu sendiri. Bukan pemerintah.

Tapi melihat kekosongan pucuk pimpinan bissu selama 7 tahun, beberapa kemudian legowo menerimanya. Rumah Arajang lebih penting diperhatikan ketimbang menonjolkan ego masing-masing. Sisa menunggu, bagaimana mantra-mantra Puang Nani menghidupkan kembali kejayaan bissu seperti dulu.