Press "Enter" to skip to content

Kisah Pilu Anak Korban KM Lestari Maju

Rautnya tegang. Matanya nanar ketika bercerita pertemuan terakhir dia dan kedua orangtuanya dua hari lalu. Nurul Fajri sesekali melempar pandang lalu kembali mengaduk kopi dingin di depannya. Jelas ada kesedihan tak berkesudahan di dirinya.

Ia sedang menanti keberangkatan ke Selayar, menggunakan maskapai Garuda Indonesia.

“Pakai CRJ1000,” katanya sambil menyentuh kantong kemeja sebelah kanannya. Terdapat selembar tiket di dalamnya yang tak berniat dikeluarkan.

“Ada lima orang keluarga saya di kapal itu (KM Lestari Maju), satu anak kecil,” tuturnya sembari menahan napas. Terlihat betul bulu-bulu di lengannya merinding ketika melanjutkan cerita.

Nurul Fajri

“Kedua orangtua saya meninggal,” katanya membuat saya menghentikan isapan rokok. Lalu perlahan memperbaiki posisi yang sebelumnya duduk ongkang kaki di depannya.

Saya bertemu dengannya di ruang tunggu Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. Tepatnya di cafe yang menyediakan ruang merokok di depan Gate 4. Kebetulan kami duduk di meja yang sama, karena tempat itu sedang ramai-ramainya.

Cerita yang keluar dari mulutnya kemudian semakin merontokkan jiwa-jiwa. Sebelum benar-benar karang, sang ayah masih sempat menelpon seluruh anaknya. Ia pun dapat giliran. Kebetulan Fajri merupakan anak kedua. Saat itu, sang ayah hanya menitip doa demi keselamatan mereka.

Handphonenya kemudian tidak berhenti berdering. Melalui Hajja Sitti Hawang, tante Fajri yang juga ada di kapal naas itu, ia mendapat cerita lengkap. Awalnya satu keluarga ini berpegangan pada besi-besi kapal. Tidak seberuntung penumpang lainnya. Kelompok ini tidak dapat baju pelampung.

“Saat ombak datang, ibu saya terhempas dan jatuh. Bapak kemudian lompat dan menolongnya. Mereka kemudian berpegangan pada tante saya (Hajja Sitti Hawang), tapi karena sama-sama tua, saat ombak ketiga datang mereka terlepas,” kisahnya.

Sejak terlepas itulah, keduanya tak lagi kembali ke badan kapal. Mereka terbawa arus. Kekuatan tua yang mereka miliki ternyata tak mampu memberi jedah barang sehari untuk bertahan.

“Ibu saya dievakuasi kemarin, bapak saya baru ditemukan hari ini,” katanya dengan mata yang terus berkaca-kaca.

Petta Daeng dan Daeng Tallara, sepasang suami istri ini ke Makassar untuk menghadiri resepsi pernikahan kerabatnya. Tak ada yang menyangka, warga Bontonasalu ini akan jadi korban KM Lestari Maju. Fajri pun tak punya firasat buruk. Kecuali anaknya yang menangis histeris ketika sang kakek dan nenek berencana pulang.

Ia bahkan tak habis pikir. Telepon yang ia terima dari sang ayah adalah pembicaraan terakhir mereka. Tak ada ketegangan yang menyeruak. Hanya doa yang ia minta dari anak-anaknya. Buat keselamatan dan kebaikan mereka semua.

Saya pun kehabisan kata-kata melihat seorang lelaki berselimut duka. Saya mengerti dan paham bagaimana itu sedih. Karena duka mereka, duka Selayar adalah duka kita juga.

Semoga Pak Fajri dan keluarga ditabahkan. Begitu pula dengan keluarga lain yang menjadi korban. Beribu doa hanya mampu kami kirimkan dari jauh buat seluruh saudara di sana. Tetaplah tabah dan serahkan sepenuhnya kepada Yang Kuasa.

“Ini musibah yang merontokkan jiwa. Baru pertama begini dan semoga tak lagi ada,” kata Fajri sambil berdiri menarik ransel hitam dan menghilang dilalulalang penumpang.