Press "Enter" to skip to content

Kisah Muslim Yang Jadi Minoritas di Northern Territory

Menjadi minoritas tentu bukan perkara mudah. Apalagi sebagai muslim yang punya banyak waktu ibadah. Sebut saja shalat jumat yang wajib bagi kaum adam setiap pekannya. Belum lagi kalau sedang menjalankan puasa. Hidup di negara yang mayoritas penganut non muslim tentu akan berat.

Cerita itulah yang berusaha saya telusuri ketika beberapa waktu lalu sebelum ramadan saya mengunjungi negara bagian Northern Territory, Australia. Selama dua pekan saya menjelajahi jejak islam di negara kanguru tersebut. Selain juga mengali cerita hubungan erat antara pelaut Makassar dengan suku Aborigin saat pemburuan teripang pertengahan abad ke-18 silam.

Sebelum ke Darwin, saya juga mengunjungi Masjid Gallipoli Auburn di New South Wales, Australia. Masjid bergaya ottoman klasik ini menjadi rumah besar ummat muslim di Sydney.

Kebetulan saat saya berkunjung ke Darwin, sedang terjadi musim panas. Sehingga udaranya benar-benar menyengat. Padahal sebelum meninggalkan Sydney, sedang memasuki musim dingin. Jadi saya bisa merasakan dua cuaca yang sangat berbeda dalam satu negara.

Darwin telah menjadi salah satu daerah tujuan ‘berjemur’ warga Australia selain pilihannya ke Bali, Indonesia. Jarak yang cukup dekat (3 jam penerbangan ke Bali) membuat di tempat ini sangat banyak warga Indonesia. Dengan mudah rumah makan halal ditemui, begitu juga komunitas muslim yang tumbuh subur.

Di ibu kota Northern Territory ada satu masjid yang jadi rumah bagi semua ummat muslim di Darwin. Namanya, The Islamic Society of Darwin (ISD) atau sering disebut sebagai Masjid Darwin. Khusus di kota Darwin, masjid ini satu-satunya yang berdiri kokoh dan sering digunakan untuk kegiatan beribadah.

Secara administrasi di Northern Territory ada dua masjid resmi yang tercatat. Yang pertama di Darwin dan Afghan Mosque di Alice Springs, jaraknya 1,499 km perjalanan darat dari Darwin. Jika menggunakan kendaraan, kedua masjid ini bisa ditempuh kurang lebih 16 jam. Dengan pesawat cukup dua jam. Bisa dibayangkan jarak keduanya.

Sebenarnya masih ada masjid ketiga, namanya Islamic Society of Palmerston di Palmerston. Meski jaraknya tidak begitu jauh dari Darwin tapi masjid ini belum sepenuhnya beroperasi. Kapasitasnya pun terbilang kecil. Tapi tetap, ia berada dibawah naungan organisasi Islamic Council of the Northern Territory (ICNT).

Kebetulan ketika kunjungan saya shalat jumat sedang berlangsung. Jadi bisa menyaksikan bagaimana indahnya melihat beraneka ragam suku bangsa berbaur dalam satu gerakan yang sama.

Suasana dalam masjid ruang utama sebelum melakukan shalat jumat berjamaah. (Foto: Ancha Hardiansya)

Sehabis jumatan di Masjid Darwin, saya berkesempatan bicara panjang lebar dengan Anwar Lamaya, Wakil Presiden Islamic Society of Darwin dan imam masjidnya Daud Yunus. Anwar Lamaya kebetulan adalah penduduk asal Indonesia yang sudah 30 tahun lebih menetap di Darwin, sedangkan Daud Yunus kelahiran Johannesburg, Afrika Selatan.

Daud Yunus menjadi imam di masjid itu setelah melalui beragam seleksi. Kata Anwar, dari 27 etnik muslim yang disatukan dalam masjid itu sepakat untuk mengundang imam masjid dari luar dan dalam negeri. Mereka diseleksi hingga akhirnya pilihan jatuh ke Daud Yunus. Penggantian ini akan dilakukan berkala. Daud pun merasa cukup betah berada di Darwin.

Meski masih bercengkrama dengan mereka, perhatian saya teralihkan dengan banyaknya tasbih yang dibagikan selepas shalat. Ada pula aneka macam makanan ringan seperti kurma dan kue-kue lainnya. Anwar menyebut hal ini sudah lazim.

“Sehabis jumat, ada saja jamaah yang membagikan makanan atau cenderamata berupa tasbih. Dengan demikian, jamaah tidak lantas pulang setelah shalat. Tapi bisa bercengkrama sejenak sebelum akhirnya kembali larut dalam kerja,” kata Anwar.

Suasana ramadan akan lebih meriah lagi. Meski muslim minoritas di negara itu,-hanya 500 jiwa. Namun komunitas ini tidak pernah kekurangan apapun. Bahkan masjid akan lebih ramai, karena jamaah memilih buka puasa bersama.

“Karena ramadan selalu identik dengan kebersamaan dan keluarga, kami memilih untuk kumpul bersama saat buka puasa. Itung-itung mengurangi rasa rindu tanah air,” kata Anwar.

Karena kapasitas masjid yang kecil, maka pengelola membangun satu tempat khusus untuk berbagai kegiatan. Salah satunya digunakan untuk acara buka puasa bersama. Namanya Islamic Community Hall. Masih berada dalam satu kawasan Masjid, meski bangunannya terpisah. Ia tepat di belakang masjid.

Saat lebaran tiba, Hall itu juga sering digunakan sebagai tempat shalat karena kapasitas masjid yang tidak memadai.

Masjid Darwin tepat berada di tengah pemukiman warga. Rata-rata di kawasan itu non muslim. Saat awal pembangunan dan aktifitas di masjid, tidak jarang terjadi kesalah pahaman. Meski suara adzan tidak dibesarkan keluar seperti di Indonesia, namun beberapa orang juga tetap merasa terganggu dengan adanya masjid di tempat itu.

Salah satu yang paling sering di keluhkan warga setempat adalah masalah parkir. Kawasan masjid Darwin memang cukup sempit untuk menampung jumlah kendaraan yang banyak. Sementara rata-rata orang di tempat itu menggunakan kendaraan roda empat. Jadilah hal ini keluhan yang sering disampaikan ke pengurus masjid.

Bahkan Anwar mengatakan, saat terjadi sentimen negatif kepada islam karena ulah sekelompok orang, masjid tersebut sering jadi sasaran. Untungnya, pihak keamanan dan pemerintah setempat paham dan tahu apa yang harus dilakukan. Sehingga tidak ada hal yang dikhawatirkan secara berlebihan.

“Kami bisa hidup dengan damai dan aman disini, meski godaannya cukup besar, terutama saat ramadan,” kata Anwar yang kebetulan jadi supir taksi di daerah itu.