Press "Enter" to skip to content

Kegembiraan Korea dan Meksiko Setelah Melibas Jerman

“Korean, brother, now you are a Mexican…”

Hampir di seluruh daratan Ciudad de los Palacios kemarin merasakan suka. Mereka nyaris berduka lara setelah dibantai 3-0 oleh Swedia. Tapi malaikat penyelamat bernama Korea datang. Mereka pun memekikkan nyanyian, “Korean, brother, now you are a Mexican…”.

Di Lope Diaz de Armendariz, lokasi Duta Besar Korea untuk Meksiko bermukim, pasca duel mematikan Jerman vs Korea berakhir, penuh sesak. Mobil, orang-orang dengan seragam hijau. Bendera Meksiko dan Korea di kibarkan bersama. Berbotol-botol wine dibuka dan diteguk bersama.

Lagi, yel-yel, Korea, saudara, sekarang kamu orang Meksiko didendangkan. Di bilik-bilik perkantoran, di jalanan ibu kota, ketika mendapati orang Korea, atau sebangsa yang mirip Asia, mereka diarak dipapah dan diciumi hingga tersipu malu.

Eforia ini tidak berlebihan. Selain sangat memungkinkan Jerman mengalahkan Korea di babak fase ketiga. Meksiko nyaris pulang dengan wajah masam. Setelah berkibar di dua laga sebelumnya, kemenangan Korea jadi kunci babak selanjutnya.

Memang Korea pulang. Namun mereka telah mencacat sejarah. Klub Asia pertama yang mengalahkan petahana juara. Itupun dibalut dengan dramatis. Mirip drama Korea yang digilai banyak kalangan. Sedih selalu menyelimuti bagian akhir. Saya baru sadar mengapa begitu banyak fans drakor di dunia ini.

Kegembiraan Meksiko dan Korea ini nyaris melupakan aksi pengusiran Kim Hyong Gil oleh penguasa bumi El Tri. 2017 lalu, pemerintah Meksiko memprotes keras aksi Korea Utara yang mengembangkan senjata nuklir hidrogen. Alhasil duta besar Korea Utara itu dipulangkan paksa.

Tentu tak ada kaitannya dengan Korea Selatan, yang tetiba dicintai orang Meksiko. Tapi kata Korean yang diteriakkan seatero Meksiko bermakna luas. Bisa Utara bisa Selatan. Walau sama-sama dipahami, yang dimaksud tentu saja negeri oppa gangnam style.

Tapi sepak bola memang berefek ganda. Tidak hanya soal angka. Masih ingat, bagaimana hubungan Amerika dengan Kuba?. Sejak perang urat syaraf tak berkesudahan antar kedua negara. Tahun 2010, tim Paman Sam akhirnya menginjakkan kaki di Kuba setelah 61 tahun tak bertegur sapa.

Atau perseteruan rakyat Armenia dengan Turki. Bola sepak pulalah yang membawa Abdullah Gul, Presiden Turki kala itu ke Armenia dan duduk berseblahan dengan Serzh Sarkisian, penguasa Armenia. Untuk pertama kalinya lagu kebangsaan Turki berkumandang di negara itu.

Sepak bola memang hanya dimainkan 22 orang. Tapi yang tegang dan bergemberi setelahnya tak terkira. Hari ini Korea dieluelukan bangsa Meksiko. Bisa jadi pintu baru untuk hubungan berkepanjangan keduanya. Indonesia juga bisa ambil peluang. Karena mereka berada dalam satu neologisme, MIKTA.

Saya tentu akan terus mendukung Meksiko. Meski yang dihadapi setelah ini adalah Seleção (orang-orang yang terpilih) dari Amerika Selatan. Brasil bukan lawan mudah tentu saja. Tapi apapun hasilnya Meksiko telah memenangkan banyak hati.

Felicitaciones!

NB: MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki dan Australia). Negara-negara ini juga masuk dalam kelompok Next Eleven. 11 negara yang dikelompokkan oleh Goldman Sachs Bank sebagai pusat investasi.