Press "Enter" to skip to content

Kaum Intoleran Sebaiknya Belajar dari Tusuk Gigi

Pak Ismail sejak pintu kendaraan ditutup dan melaju, tak mau berhenti ngoceh. Banyak hal ia ceritakan. Seperti biasa, saya tidak bisa hanya jadi pendengar yang baik, tapi juga teman diskusi yang asik. Hingga kami terlibat dalam scene pembicaraan yang berat. Soal kelompok intoleran.

Menurut Pak Ismail yang cerita sembari berkali-kali mengikuti arah peta di smartphonenya, kelompok intoleran itu banyak. Bukan hanya Front Pembela Islam (FPI) saja misalnya. Tapi juga orang-orang yang tidak siap akan datangnya perubahan. Tukang ojek pangkalan salah satunya.

“Maksudnya?”

“Yah, mereka dengan leluasa menghakimi ojek online yang memasuki wilayah kerjanya, padahal zaman sudah berubah.”

Pak Ismail menceritakan itu karena pernah jadi bulan-bulanan tukang ojek pangkalan. Saat dirinya masih bekerja dengan kendaraan roda dua. Ketika jenis kendaraanya berubah jadi roda empat, ternyata perlakuan serupa juga masih ada. “Bahkan mereka juga mulai melakukan persekusi.”

Terus terang saya tidak paham maksud pembicaraan Pak Ismail. Ingin rasanya berlama-lama membahas itu, tapi lokasi tujuan saya sudah di depan mata. Sebelum berpisah Pak Ismail menitip pesan agar saya menginformasikan kepada kelompok intoleran agar belajar pada tusuk gigi.

Saya okekan saja. Meski tak tahu maksudnya apa.

Sehabis makan. Saya sebenarnya nyaris lupa pesan yang disampaikan Pak Ismail. Hingga saya lihat sekotak tusuk gigi. Ada dua model. Yang satu dibalut kertas satu persatu lalu diletakkan dalam kotak. Satunya lagi dikumpulkan begitu saja di kotak yang lain. Semuanya sama, mungkin dimensi-dimensinya pun serupa.

Awalnya saya hendak mengambil tusuk gigi yang tak dibungkus sama sekali. Pertama karena praktis, bisa langsung dipakai. Namun kemudian saya teringat dengan Agatokles. Seorang aristokrat pada periode Yunani Kuno. Pada tahun 289 SM ia dibunuh oleh budak kesayangannya melalui tusuk gigi.

Si budak menaruh racun mematikan pada ujung tusuk gigi yang kemudian dipakai sang tiran. Racun itu bekerja pelan-pelan hingga akhirnya Agatokles meninggal dunia.

Saya juga ingat kabar seorang teman. Yang menceritakan cerita dari temannya. Dimana temannya itu punya teman yang punya teman ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Si temannya temannya teman ini, disinyalir terinveksi penyakit menular dari tusuk gigi yang dipakainya dari warung makan. Mungkin bekas pakai ODHA yang berlaku jahil.

Karena pertimbangan itu saya akhirnya memilih tusuk gigi yang dibungkus satu persatu. Jika diperhatian secara seksama, bentuk tusuk gigi yang dibungkus ekslusif itu jauh berbeda dengan yang dikumpulkan begitu saja. Di lain sisi tusuk gigi itu ada bagian bergerigi. Awalnya saya pikir itu hanya pemanis.

Hingga seorang teman berkata. Itu adalah bagian penting dari tusuk gigi. Fungsinya sebagai bantalan sehabis pakai. Agar ujung yang bekerja di dalam mulut tidak melekat langsung ke meja atau permukaan lain. Hitung-hitung untuk dipakai dua atau tiga kali. Tapi siapa pula yang pakai tusuk gigi berkali-kali.

Sejauh itu, saya belum menemukan jawaban maksud dari pesan Pak Ismail. Apa hubungannya kelompok intoleran dengan tusuk gigi?.

Saya kemudian melihat tusuk gigi yang bekas pakai. Ia berada di pembuangan sampah. Bercampur dengan sampah lainnya. Bentuknya yang kecil nyaris tak mampu dilihat sekilas mata. Padahal tusuk gigi itu lahir dari rahim yang ekslusif, karena ujung lainnya bergerigi.

Mungkin saja ia habis dipakai politisi rakus untuk mengangkat sisa makanan yang menempel di giginya. Setelah itu dibuang begitu saja. Tanpa peduli, ia awalnya dibuat ekslusif dan mewah. Bahkan berbungkus kertas putih-putih. Tapi namanya tusuk gigi, meski membantu menjangkau sesuatu yang tak tercapai oleh tangan, jika sudah dipakai, dibuang ke tempat sampah.

Kecuali tusuk giginya terbuat dari logam mulia dan berhias batu permata. Mungkin akan disimpan untuk koleksi atau dijual di kemudian hari.

Saya kemudian berpikir. Jangan-jangan maksud Pak Ismail menyampaikan pesan agar kita tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. Tusuk gigi dari apapun bahan dasarnya, tugas utamanya adalah membantu manusia menjangkau sisa-sisa makanan yang sulit digapai oleh tangan.

Meski jadi alat, bukan berarti ia memaksakan kehendak. Semuanya tetap dikontrol oleh tangan. Kemungkinan itu maksud Pak Ismail.

Beberapa saat kemudian, saya menemukan buku berjudul ‘Slilit Sang Kiai’. Buku ini kumpulan cerita Emha Ainun Najib. Dalam satu cerita ia berkisah tentang seorang ulama bergelar syaikh. Ulama maksyur itu singkat cerita menemui ajalnya. Lalu datanglah seorang jahat, yang berusaha mencuri kafannya setelah dikubur.

Sial tak ketulung. Mayat sang ulama berbicara setelah dua lembar kafannya diambil si jahat. Kafan ketiga ia pegang erat-erat lalu berkata “kafan pertama aku biarkan, kedua juga aku ikhlaskan, tapi yang ketiga tak aku relakan. Aku tak ingin menghadap Allah dalam keadaan telanjang.”

Siapapun akan merinding jika berada di posisi si jahat. Sejahat-jahatnya dia, rasa takut pastilah ada. Lalu kemudian dialog si mayat ulama dan si jahat berlanjut dengan satu syarat.

“Kuberikan kain kafan itu kepada mu asal kau mintakan maafku kepada si fulan. Pada suatu ketika, ia mengundang ku makan di rumahnya. Sepulang dari sana, saya mengambil ranting pohonnya untuk ku jadikan tusuk gigi. Saat ini, gigi itu jadi bara, karena tak sempat ku mintakan kepada si fulan.”

Si ulama menyesal karena telah mengambil hak orang lain. Meski itu hanya sebatang ranting untuk tusuk gigi. Bisa dibayangkan andai hak orang lain yang diambil lebih besar dari itu. Akan jadi apa si ulama di alam kuburnya. Sementara banyak orang saat ini, atas nama agama mengambil hak orang lain.

Jangan melihat hak sebagai benda yang kasat mata saja. Ia juga berbentuk banyak rupa. Hak berekspesi misalnya. Itulah mengapa, menghargai pilihan orang lain sangat diutamakan. “Jangan karena kita mayoritas, kita tak mentolerir sikap orang lain,” mungkin begitu pesan yang ingin disampaikan Pak Ismail.

Tulisan ini pernah terbit di Voxpop dengan judul “Kelompok Intoleran Sebaiknya Belajar dari Tusuk Gigi” pada Tanggal 8 Juni 2017.