Press "Enter" to skip to content

Jalan Panjang Menuju Puya

Kematian pada hakikatnya merupakan bagian dari dimensi kegaiban setiap manusia. Tidak sedikit pula yang menganggap kematian sebagai peristiwa menakutkan, kalau tak bisa dikatangan mengerikan. Ada perpisahan dan perjalanan baru menuju sesuatu yang belum terjamah. Tangisan pecah. Haru dan duka merambah kemana-mana.

Tapi lain hal dengan di Toraja. Kematian tidak selalu identik dengan kengerian, apalagi tangisan membahana. Kematian hanyalah fase perjalanan menuju puya (surga) yang abadi. Meski berpisah dalam tutur kata, bukan berarti raga pergi selama-lamanya.

Kematian di Toraja mengambil jalan yang panjang dan tidak murah. Saat awal kematian, duka belum dijadikan lara. Si jenazah disimpan dalam rumah (tongkonan) lalu dijaga layaknya masih bernyawa. Ia tetap dianggap ada, hingga akhirnya pesta bergelora.

Ritual rambu solo’ jadi ajang tumpah air mata dan darah. Disinilah orang Toraja mengucapkan kata berpisah, setelah bertahun-tahun si jenazah didiamkan dalam rumah. Meski tidak untuk selamanya. Babi dan kerbau dikorbankan untuk mengantar arwah menuju sang pencipta. Makan bersama lalu bersua sanak saudara.

Setelah pesta meriah, tahun-tahun berikutnya masih ada waktu untuk berjumpa. Ma’nene jadi ajang reuni keluarga. Jenazah lama yang dimakamkan, dalam gua, tebing batu hingga patane (pemakaman umum berbentuk rumah) dikeluarkan. Dibersihkan bahkan menggantikan pakaiannya. Begitulah seterusnya, hingga tak ada lagi yang mengenalnya.

Foto by Ancha Hardiansya