Press "Enter" to skip to content

Geliat Hidup di Masjid Gallipoli Australia

2015, sebelum puasa, saya berkesempatan mengunjungi Australia selama dua pekan. Ada dua negara bagian yang saya kunjungi, New South Wales dan Northern Territory. Di New South Wales dengan ibu kota Sydney, saya menyempatkan diri melihat kehidupan muslim di kota multikultural tersebut.

Muslim di Sydney memang minoritas. Tapi mereka tumbuh dan hidup berdampingan dengan mayoritas penduduk. Meski kadang kala ada kesalahpahaman yang muncul, tapi secara umum islam diterima di negara tersebut. Begitu pula ketika saya mengunjungi Darwin di Northern Territory.

Negara bagian yang paling dekat dengan Indonesia ini bahkan lebih aware akan keberadaan muslim. Rumah makan halal banyak bertebaran dan penjualnya rata-rata berasal dari Indonesia. Saya tidak akan menceritakan soal kuliner halal di Darwin kali ini, tapi soal masjid besar di negara minoritas muslim.

16 kilometer kesebelah barat ujung selatan dari Sydney Harbour (Pelabuhan Sydney), dimana Opera House yang jadi icon Sydney berdiri kokoh, terdapat satu kawasan yang padat muslim. Di tempat itu ada masjid besar yang berdiri kokoh, namanya Masjid Gallipoli Auburn terletak di Auburn, New South Wales, Australia.

Masjid ini dibangun pada tahun 1999 dengan menghabiskan anggaran sebesar AUD 6 juta. Masjid bergaya ottoman klasik ini diprapakarsai oleh muslim Sunni dari Turki. Namun mereka juga membuka diri kepada jamaah dari berbagai negara, termasuk banyak warga Indonesia yang sering beribadah di tempat itu.

Saat saya kunjungi, Masjid ini sedang bersiap-siap menyambut bulan suci ramadan. Semua bagiannya dibersihkan oleh jamaah setempat. Namun, Office Manager and Tour Guide Auburn Gallipoli Mosque, Ergun Genel tetap bersemangat menjelaskan kepada saya seluk beluk masjid berkapasitas 5 ribu orang tersebut.

Office Manager and Tour Guide Auburn Gallipoli Mosque, Ergun Genel

Ergun Genel menceritakan, saat awal-awal dirinya pindah ke Sydney ia kesusahan mencari tempat beribadah. Untunglah dengan berbagai upaya, masjid tersebut bisa dibangun, dengan bantuan pemerintah Turki kala itu. Masjid besar ini pun rampung di tengah pemukiman yang bukan pemeluk islam.

Saat awal masjid beroperasi masih sering terjadi kesalah pahaman dengan penduduk setempat. Namun lama-kelamaan mereka juga bisa menerima dan muslim di Sydney bisa menahan diri. “Saat ini kami bahkan mendirikan nursing room (semacam panti jompo) dan sekolah dasar khusus muslim,” katanya.

Meski geliat islam tumbuh subur di Sydney, ada hal-hal yang ditakutkan pemuka agama di tempat itu. Salah satunya makin berkurangnya anak muda yang datang ke masjid. Ergun bercerita, masjidnya memang sering ramai saat jam-jam shalat berjamaah, namun yang datang rata-rata orang tua.

Itulah sebabnya pengurus masjid berupaya menjadikan Masjid Gallipoli tidak sekedar sebagai tempat beribadah, tapi juga untuk kegiatan-kegiatan lain. Seperti olahraga bela diri khusus anak muda. “Kami takut, mereka menghabiskan waktu dengan hal yang tidak penting seperti bergabung dengan ISIS,” katanya.

Masjid Gallipoli telah mengokohkan dirinya sebagai wajah islam yang ramah di Sydney. Tidak heran kalau imam besar di masjid itu selalu diundang oleh pemerintah Sydney jika ada hal yang perlu dibicarakan. Mereka selalu memberi masukan agar semua ummat beragama bisa hidup berdampingan. Termasuk menerima muslim.

Setiap ramadan tiba, Masjid Gallipoli akan ramai oleh aktivitas. Pengelola masjid akan rutin menyediakan santapan buka puasa. Meski tidak jarang, malah sajian buka puasanya lebih banyak disumbangkan oleh jamaah itu sendiri. Mereka juga akan rutin menggelar tarwih dan tadarus bersama.

Tidak jauh dari Masjid Gallipoli ada sebuah pusat perbelanjaan yang didominasi oleh pedagang dari Timur Tengah. Di tempat ini, sajian makanan halal dengan mudah ditemui. Harganya pun tidak begitu mahal, jika dibandingkan makanan halal yang tepat berada di kota Sydney.