Press "Enter" to skip to content

Banyak Anak di Makassar Terjerat Prostitusi Online

Wajah Makmur Payabo berubah masang ketika saya tanyakan soal prostitusi anak di Makassar. Direktur Eksekutif Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Makassar ini lantas menimpali predikat sangat mengkhawatirkan atas perkara tersebut.

Ia mulai bercerita apa saja yang membuatnya risih. Sebagai orangtua, tentu perkara ini berat baginya. Sejak bertahun-tahun silam, Makmur dan lembaganya menaruh perhatian penuh atas kekerasan seksual kepada anak dibawah umur. Namun tak banyak yang mampu diperbuatnya, selain pencegahan dan memulihkan kejiwaan korban.

Apatalagi, teknologi informasi yang kian berkembang kala ini membuka lembaran baru, praktik prostitusi online. “Bahkan pernah ada kasus, seorang ayah yang menjual anaknya sendiri di sosial media,” kata Makmur yang ditemui di Jalan Anggrek Raya Makassar, akhir 2017 silam.

Sekolah pun menurutnya, bukan tempat aman bagi anak-anak. Karena ada banyak cara prostitusi ini dijalankan. Saban waktu, ia bahkan menemukan seorang juru parkir yang nyambi jadi mucikari dengan kurang lebih 50 data anak sekolah dikantonginya.

“Membongkar praktik ini memang tidak mudah, saya pun harus hati-hati menelurusi setiap modus, jangan sampai malah saya dianggap sebagai pelanggan,” ujarnya.

Satu yang pasti, kata dia, 95 persen dari kasus prostitusi anak baik dengan cara tradisional maupun online dilakukan oleh kerabat terdekatnya sendiri. Entah itu keluarga, teman bahkan kekasih yang didamba-damba. “Gaya hidup dalam kasus prostitusi cukup berpengaruh,” katanya.

Kerumitan jaringan prostitusi anak menjadi penghalang lain. Ia mencontohkan jaringan ini mirip skema multi-level marketing (MLM). Untuk mencari tokoh tertinggi tidak semudah mendapatkan predikat bintang sebagaimana dalam setiap game bisnis MLM.

Data pasti ada berapa anak yang terlibat prostitusi di Makassar memang belum pernah dirilis. Namun diperkirakan jumlahnya tidak sedikit. Merujuk pada data Komisi Perlindungan Anak Indonesia pada 2015, jumlah korban prostitusi online mencapai 96 orang di seluruh Indonesia.

Tahun itu, penyebaran pengguna internet belum semassif saat ini. Namun ia sudah mendominasi pada data jenis trafficking dan eksploitasi anak lainnya. Tidak ada kepastian apakah peningkatan jumlah pengguna internet secara signifikan mendongkrak prostitusi online. Namun, itu tetap patut dicurigai.

Apalagi di 2015, Kepolisian Sulawesi Selatan juga berhasil membongkar beberapa kasus prostitusi online. Dimana ada ratusan korban di dalamnya dan ada anak yang terlibat. Jumlahnya terus meningkat hingga tahun 2016 dengan korban sebanyak 475 orang. Untuk semua jenis perdagangan manusia.

Guna membuktikan data dan pernyataan Makmur, saya menemui Aziz alias Cizza di Rumah Tahanan Klas I Makassar. Aziz merupakan mucikari online pertama yang dibekuk polisi 2015 silam. Ia saat itu masih menjalani sisa masa tahanannya. Kini Aziz sudah menghirup udara bebas.

Dari Aziz saya mendapat keterangan mengejutkan, bahwa dirinya hanya bagian kecil dalam permainan itu. Ia pun merasa hanya sial sehingga harus dipenjara. Meski begitu, berkat kelihaiannya memainkan peran, ia hanya dipenjara tiga tahun dari 10 tahun tuntutan jaksa.

Secara tegas, Aziz menolak tuduhan menjual anak dibawah umur. Tapi tidak menampik telah memperdagangkan perempuan. Dimana jumlahnya pun tak sedikit. 100-an orang jika merujuk data kepolisian. Tapi Aziz tahu, beberapa orang yang memang objek dagangannya adalah anak dibawah umur.

“Saya bertransaksi lewat BBM (BlackBerry Massenger), bahkan saya punya dua gadget karena pertemanan yang banyak,” kata dia menceritakan kiprahnya kala itu.

Daftar orang-orang dalam gadgetnya merupakan rekan sejawat. Sebagai penyalur sales promotion girl (SPG), bagi Aziz perkara mengumpulkan orang itu tidaklah susah. “Mereka yang datang dengan kerelaan hati, menawarkan diri dan minta dicarikan pelanggan,” katanya.

Untuk setiap orang, ia mendapat komisi tidak menentu. Tapi rata-rata Rp500 ribu untuk satu perempuan. Kisaran harga yang ia patok mulai Rp1,5 hingga Rp3,5 juta untuk short time. Namun tidak jarang ada yang harganya sampai Rp10 juta untuk kencan semalaman. Dia mengklaim para pelanggannya adalah kalangan menengah atas.

Tidak heran, ketika bisnis itu dijalankannya, Aziz hidup serba berkecukupan. “Semua barang branded sudah saya miliki, rumah, mobil dan barang-barang lainnya,” kata pria berkawat gigi tersebut.

Meski sudah kapok, namun tidak ada jaminan Aziz akan kembali ke bisnisnya itu. Ketika saya tanyakan akan kerja apa selepas dipenjara, apakah akan kembali menjalankan bisnis prostitusi, ia hanya tersenyum dan berkata tak tahu.

Atas keluwesan dirinya menggunakan gadget di dalam penjara membuka fakta baru, bahwa kejahatan bisa dilakukan dimana saja, melalui teknologi.

Saya lantas teringat dengan cerita Amiruddin alias Amir Aco. Terpidana mati kasus narkoba yang di tahun 2016 lalu kedapatan melakukan hubungan seks dengan seorang remaja berseragam sekolah di Lembaga Pemasyarakatan Makassar. Semua komunikasi saat itu dilakukan melalui gadget dan remaja bersangkutan dengan mudah melenggang masuk.

Menelusuri praktik prostitusi online

Kian maraknya sosial media, membuka ruang baru bagi pelaku prostitusi menjalankan aksinya. Baik yang dilakukan perseorangan ataupun dalam jaringan. Saya kemudian melakukan penelusuran praktik ini di sosial media yang lasim digunakan, Facebook dan Twitter.

Dengan bermodalkan kata kunci khusus, seperti open booking (BO) atau bispak (bisa pakai), keberadaan prostitusi online dengan mudah ditemui. Sisa ditambahi spesifik daerah sasaran di belakang kata kunci tersebut untuk mengerucutkan pencarian.

Hasilnya, saya menemukan banyak grup terbuka dan tertutup yang menjadi ruang komunikasi. Tidak sedikit yang bahkan menerapkan verifikasi agar bisa bergabung. Yang miris, grup Facebook yang khusus menyediakan anak usia sekolah juga ada.

Lewat penelusuran ini pula, saya dapatkan kenyataan bahwa tak semua grup benar-benar menyediakan teman kencan. Ada juga yang merupakan jaringan penipuan berkedok prostitusi. Yang anehnya, ada juga korbannya yang mau ditipu.

Di Twitter beberapa akun germo berdalih hanya sebagai alat promosi akun perseorangan yang menyediakan jasa. Seperti akun milik @DaengSexMKS. Hanya saja setelah ditelusui lebih jauh, akun-akun ini masih saling berkaitan.

Saya menganalisa akun-akun tersebut menggunakan Tweetreach. Khusus @DaengSexMKS, akun germo ini, memiliki 22 kontributor tetap. Akun @LittleBitBite_3 yang merupakan akun germo dengan pengikut 31.400 orang jadi yang paling aktif bekomunikasi dengan @DaengSexMKS.

Sedangkan akun @athalia_nelly2 (Avail Makassar) jadi yang paling sering melakukan retweet. Mereka juga terhubung dengan akun lain di kota berbeda, seperti Jakarta, Palembang, Bandung dan lain-lain. Entah karena banyak kasus yang mulai terbongkar, akun-akun ini mulai jarang berkicau.

Di Facebook saya menaruh perhatian pada akun atas nama Yunitha Oching. Akun itu kini telah dihapus oleh pemiliknya. Di beberapa grup ia terlihat sangat aktif mempromosikan gadis perawan dan masih sekolah. Namun pada linimasanya, dia merupakan pemilik konter pengisian pulsa.

Setelah dikontak melalui pesan pribadi, akun menyatakan bisa menyediakan beberapa perempuan. Tapi lokasi gadis tersebut tidak di Makassar. Mereka hanya meminta janjian dengan timnya yang kemudian melakukan transaksi langsung.

Memang belum bisa dipastikan, apa yang dilakukan Yunitha Oching ada kaitan dengan gandrungnya pengguna telepon seluler menerima pesan singkat jasa chat sex. Tapi tetap harus dicurigai, karena tidak sedikit orang yang pernah menerima pesan singkat dengan isi macam-macam setelah mengisi pulsa di konter-konter di pinggir jalan.

Saya juga berhasil mengajak ketemu seorang remaja putri dengan perantaran aplikasi Beetalk di salah satu hotel di Makassar. Remaja yang mengaku masih sekolah itu, dengan mudah diajak bertatap muka di sebuah hotel meski sudah malam. Selain Beetalk, ia juga menggunakan beberapa aplikasi lainnya.

“Saya pakai Wechat, karena punya kemampuan mencari orang terdekat,” katanya.

Beberapa aplikasi sosial media yang ia gunakan merupakan rekomendasi teman-temannya. Katanya, biar terlihat gaul. Walau ia mengaku bukan pekerja seks. Ia tetap mau diajak bertemu. Bahkan dengan orang yang tak dikenalnya sekalipun. Ini harusnya jadi perhatian serius setiap orangtua.

Peningkatan VS Penindakan

Seorang remaja berusia 16 tahun, pada awal bulan Oktober 2017 lalu dipulangkan ke Makassar dari Ambon. Ia merupakan korban perdagangan manusia yang hendak dijadikan pekerja seks. Ia hanya sedikit beruntung dibandingkan tujuh korban lainnya yang dipulangkan lebih awal.

Alita Karen dari Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Sulawesi Selatan yang jadi pendamping korban mengatakan, banyak anak-anak di Makassar yang jadi sasaran perdagang manusia. Mereka terkadang diiming-imingi sesuatu yang menggiurkan sehingga rela menuruti seluruh ajakan pelaku.

Hal ini tidak mengejutkan mengingat Makassar kini menjadi zona merah perdagangan manusia. Dengan letak geografis yang strategis, Makassar tak hanya menjadi daerah tujuan, tapi juga tempat transit dan pemasok korban perdagangan manusia.

Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) juga mencatat, kasus kekerasan perempuan dan anak sepanjang 2016 terjadi 297 kali, naik signifikan di tahun 2017 menjadi 770 kasus per Oktober. Data ini memang belum terpilah tapi kebanyakan korban adalah anak-anak dan perempuan.

Dari beragam anasilis, setiap orang yang terlibat dalam bisnis prostitusi punya berbeda. Tingginya angka kesenjangan sosial di Sulawesi Selatan dinilai ikut berpengaruh. Pada 2016 contohnya, rasio gini Sulawesi Selatan menjadi juara di Indonesia dengan bertengger di urutan pertama sebesar 0,43 persen.

Sedangkan pengguna internet di Pulau Sulawesi berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencapai 8,4 juta di tahun 2016. Sebagian besar ada di Sulawesi Selatan. Sedang dari 132,7 juta pengguna secara nasional, 18,4 persen diantaranya didominasi usia 10 hingga 24 tahun.

Kondisi ini tidak sejalan dengan pertumbuhan literasi masyarakat. Khususnya dalam menggunakan sosial media.

Yang menyedihkan, karena era yang berubah cepat tidak didukung penindakan yang juga lebih canggih. Sistem kepolisian kita masih menunggu laporan atau tidak jemput bola, menjadi alasan kuat lambannya polisi mengatasi kasus prostitusi online.

Meski saat ini Polda Sulsel telah membentuk tim khusus berantas praktek prostitusi online, namun kiprahnya masih belum maksimal. Sepanjang 2017, mereka hanya berhasil membongkar satu praktik prostitusi online dengan tiga tersangka.

Kelompok yang berhasil dibekuk polisi dikomandoi Bayu Munsir alias Ummi Jubaedah. Seorang pegawai non PNS di lingkup Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar. Dua rekannya Kahar dan Muh Idris kemudian ikut ditangkap berselang sehari penangkapan Bayu.

Direktur Reskrim Khusus Polda Sulawesi Selatan, Kombes Yudhiawan Wibisono mengatakan, Polda Sulawesi Selatan sebenarnya sudah memiliki Cyber Crime Reskrim Khusus, namun fokus kasus yang disoroti juga beragam.

“Misalnya disibukkan oleh pelaporan masalah ujaran kebencian dan kasus penipuan. Sedangkan prostitusi online, masih ditangani Reskrim Umum. Jika laporan masuk ke mereka (Reskrim Umum), kasusnya baru ditindaklanjuti Cyber Crime jika perlu analisis digital,” katanya.

Kesulitan ini wajar saja, mengingat untuk melacak praktik prostitusi online, polisi harus menunggu laporan masuk atau melakukan penyamaran. Hanya dengan begitu, praktik ini bisa diungkap. Dan seperti itulah cara polisi membongkar semua praktik prostitusi online di Sulsel.

Karena kenyataan ini, Andi Fauziah Astrid, selaku Pemerhati Media Sosial menyatakan, kalau internet akan terus terbuka untuk praktik prostitusi. Apalagi melihat kebiasaan remaja, khususnya putri yang mampu menghabiskan 3 hingga 5 jam untuk bersosial media.

Satu-satunya harapan yang patut dikuatkan adalah peran serta orangtua dalam mengawasi tingkah laku anaknya. Hanya sayang, kenyataan menyebut jikalau banyak anak-anak malah lebih lihai menggunakan sosial media ketimbang orangtuanya.

Indonesia seyogyanya sudah diperingatan akan kenyataan ini lebih awal. Kedutaan Besar dan Konsulat Amerika Serikat di Indonesia dalam laporannya di tahun 2016, tentang perdagangan orang mengatakan, Indonesia sebagai salah satu negara asal utama, baik laki-laki, perempuan dan anak-anak untuk menjadi pekerja paksa dan korban perdagangan seks.

Sekitar 1,9 juta dari 4,5 juta warga Indonesia yang bekerja di luar negeri dianggap rentan mengalami beragam bentuk kekerasan.

Iming-iming penghasilan besar tanpa perlu kerja berat membuat bisnis prostitusi secara daring kian populer. Ditambah pula dengan minimnya pengawasan semua pihak, arus deras bisnis ini membuatnya makin sulit dibendung.

Semoga saja, Data National Human Trafficking Resource Center di Amerika tidak benar terjadi di Indonesia. Bahwa 70 persen prostitusi di negara tersebut dilakukan melalui sarana internet. Dimana, sebagian besar korbannya anak-anak. ***

Laporan ini pertama kali diterbitkan di Independen.id dalam empat seri. Dengan sedikit gubahan, laporan ini disajikan untuk Alagraph.com kemudian Sendalu.com atas seizin penulis dan Independen.id. Laporan ini pula mendapat dukungan dana dari Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara melalui fellowship liputan “Kekerasan terhadap Perempuan Melalui Siber”.