Press "Enter" to skip to content

SENDALU: Lebih Dalam Mencari Makna

Banjir informasi. Itulah yang terjadi kini. Dahulu, untuk mengetahui apa yang terjadi kemarin, kita bergegas mencari koran edisi pagi. Loper-loper juga dengan mudah ditemui. Di sudut kota, di emperan jalan, bahkan dekat warung kopi.

Mungkin sekarang mereka masih ada. Tapi tak lagi nampak orang-orang berjejal membaca berita. Sekedar membuka halaman pertama lalu membayar separoh harga. Semua demi kabar yang paling segar.

Kini semua beranjak. Seperti anak kecil yang tak lagi akrab dengan mainan kelereng atau petak umpet. Tapi dengan gadget dan bergerak sepenuhnya lewat jemari. Informasi pun makin laju. Melampaui kecepatan berpikir pewarta menentukan kemana arah berita.

Baik, tentu saja. Tapi kemajuan sering kali jadi kemunduran itu sendiri. Ia bukan dewa tanpa celah. Bahkan ia senjata mematikan bagi nalar. Jurnalistik satu diantara banyak korban teknologi. Walau disisi lain ia juga penerima manfaat paling tinggi.

Media arus utama versus sosial media. Begitu orang-orang menanggapi. Disaat banyak yang meninggalkan koran, beralih ke media siber, kini media siber harus bertekuk lutut dari kedikdayaan sosial media. Cepat, informatif dan beragam. Tapi juga penuh kebohongan.

Media yang katanya arus utama, sayangnya malah melawan sosial media. Hingga lupa marwahnya sebagai penyampai kebenaran. Yang penting cepat dan informatif, sebuah sajian sudah layak disebarkan. Tanpa verifikasi, tanpa konfirmasi.

SENDALU.com berupaya berdiri di tengah-tengah. Mengambil segmen slow journalism sebagai alternatif. Karena kami sadar informasi bukan sekedar tahu, tapi membawa makna. Mengarahkan, membicarakan dan menentukan arah diskusi. Untuk solusi, untuk kepuasan hati.

Seperti angin sendalu yang bertiup sedang.